Pandemi COVID-19 di Indonesia memberikan dampak terhadap berbagai sektor baik perekonomian, pendidikan, dan kehidupan sosial masyarakat lainnya termasuk kepada permasalahan Kesehatan. Walau cukup berat beban di sektor Kesehatan tetapi dengan berbagai upaya yang telah pemerintah lakukan dalam mengantisipasi dampak pandemi COVID-19, khususnya pada kelompok rentan seperti ibu hamil maupun balita, memberikan hasil yang cukup menggembiarakan karena selama 2 tahun terakhir permasalahan stunting di Indonesia menunjukkan terjadinya penurunan. Penilaian status gizi Balita ini terkait erat juga dengan sasaran pokok yang ingin dicapai dalam Program Indonesia Sehat pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, yaitu meningkatnya status kesehatan dan gizi anak.

Kementerian Kesehatan RI melangsungkan launching hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) Tingkat Nasional, Provinsi dan Kabupaten/Kota Tahun 2021 yang dihadiri oleh Wakil Menteri Kesehatan RI Dante Saksono harbuwono didampingi Plt. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Nana Mulyana, Plt. Dirjen Kesehatan Masyarakat Kartini Rustandi dan Sekretaris BKKBN Taviv Agus Riyanto yang dilakukan secara hybrid.

Pada tahun 2021, Kementerian Kesehatan bekerjasama dengan Biro Pusat Statistik (BPS) dengan dukungan Tim Percepatan Pencegahan Anak Kerdil (Stunting) Sekretariat Wakil Presiden Republik Indonesia melakukan Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) dengan mengumpulkan data di 34 provinsi dan 514 kabupaten/kota dengan jumlah blok sensus (BS) sebanyak 14.889 Blok Sensus (BS) dan 153.228 balita.
Berdasarkan hasil SSGI tahun 2021 angka stunting secara nasional mengalami penurunan sebesar 1,6 persen per tahun dari 27.7 persen tahun 2019 menjadi 24,4 persen tahun 2021. Hampir sebagian besar dari 34 provinsi menunjukkan penurunan dibandingkan tahun 2019 dan hanya 5 provinsi yang menunjukkan kenaikan. Hal tersebut menunjukkan bahwa implementasi dari kebijakan pemerintah mendorong percepatan penurunan stunting di Indonesia telah memberi hasil yang cukup baik.

Di Desa Gempolan sendiri pada tahun 2022 ini telah melaksanakan program stunting sebanyak 6 balita dimana balita balita tersebut memiliki berat badan yang tidak sesuai dengan perhitungan masa pertumbuhannya. Oleh karena itu perlunya diberikan asupan makanan tambahan agar balita tercukupi kebutuhan gizinya.
Dengan cukupnya kebutuhan gizi serta asupan makanan maka diharapkan balita tersebut tidak gampang terserang penyakit yang dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak, Semoga dengan adanya bantuan dari pemerintah dapat mengatasi permasalahan stanting terutama di Desa Gempolan dan umumnya di Indonesia.
