PAGELARAN WAYANG KULIT UNTUK BERSIH DESA GEMPOLAN

Bersih desa merupakan tradisi turun temurun dalam kebudayaan masyarakat. Di jawa khususnya, ritual bersih desa telah dilakukan berabad-abad lamanya. Ritual bersih desa di jawa merupakan wujud bersatunya manusia dengan alam. Ritual Bersih Desa dapat didefinisikan sebagai wujud rasa syukur warga sebuah desa atas berkat yang diberikan Tuhan kepada masyarakat desa, baik dari hasil panen, kesehatan, dan kesejahteraan yang telah diperoleh selama setahun dan juga sebagai permohonan akan keselamatan dan kesejahteraan warga desa untuk satu tahun mendatang. Ritual Bersih Desa sendiri biasanya dilaksanakan satu kali dalam setahun setelah musim panen tiba dan tradisi ini telah dilakukan secara turun-temurun dari zaman nenek moyang. Hari pelaksanaanya pun tidak sembarangan ditentukan, melainkan ada hari-hari tertentu di dalam kalender Jawa yang merupakan hari sakral untuk melaksanakan Ritual Bersih Desa.

Selain itu biasanya warga juga membersihkan makam-makam yang dianggap keramat, terutama makam-makam leluhur, sosok atau tokoh yang pernah menjadi panutan masyarakat desa tersebut seperti mbah Tugu Krapyak dan Dupakwarak. Tujuan lain adalah untuk membersihkan halangan atau kesusahan yang ada (resik sukerta/sesuker) agar kehidupan seluruh warga tenang dan tenteram.

Berbagai kegiatan dilaksanakan mulai dari mengadakan kenduri, mengirim sesaji yang diperuntukkan untuk danyang desa atau bahkan menggelar tradisi jawa seperti pertunjukan wayang.

Di desa gempolan kecamatan pakel kabupaten Tulungagung warga bersama perangkat desa mengadakan ritual bersih desa berupa kenduri dan mengirim saji-sajian ke 3 punden yang dipercaya sebagai makom sesepuh desa Acara dimulai dari Punden mbah Tugu yang dipercaya sebagai cikal bakal Desa Gempolan. Kemudian dilanjudkan ke Mbah Krapyak Dan Mbah Dupak Warak Kemudian setelah selesai dari ketiga punden dilaksanakan kenduri bersama perangkat desa, lembaga desa dan warga desa yang berkeyakinan dengan ritual tersebut.

Acara dilanjudkan dengan menggelar pagelaran wayang kulit semalam suntup dengan lakon semar mbangun kayangan. acara yang dihadiri wakil Bupati Tulungagung Bapak Sunu, Ketua DPRD muspika serta Kepala Desa seluruh Kecamatan Pakel berjalan dengan lancar. antusias masyarakat sangat tinggi untuk melihat pagelaran wayang kulit. 2 tahun tertunda karena adanya pandemi covid 19 yang sempat membuat gempar akhirnya dapat terlaksana juga.

Harapan kedepan agar dijauhkan dari musibah dan bencana agar kehidupan di desa Gempolan aman tentram damai gemah ripah lohjinawi

Postingan Terkait